Monday, January 16, 2006

Titik Nadir sebuah Keniscayaan dalam Meretas Keadilan di Era Globalisasi


Siapa tidak mengenal Indonesia, negeri kaya alam yang sangat indah, subur dan permai. Suatu tempo seorang pecinta keindahan dari negeri gersang mesir mendatangi Indonesia dan terpukau dengan keindahan tanah sawah bertingkat membentang, gunung hijau menjulang dan laut biru terpampang. Ribuan pulau bagaikan belahan surga yang terlimpah di bumi yang teruntai dalam rentetan zamrud khatulistiwa.
Tentunya kita tetap ingat dengan lantunan musisi senior kita Koes Ploes dengan sayair pujaanya yang mengisahkan betapa agungnya Tuhan menciptakan Indonesia sebagai negeri yang penuh dengan limpahan rahmat-Nya. Syair tersebut berbunyi sebagai berikut; “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”
Indonesia juga merupakan bangsa yang pernah menjadi Negara swasembada pangan dunia dan menjadi guru bagi petani dibelahan dunia lain. Dengan keberagaman iklim dan budaya menjadikan Negara kita menjadi Negara yang dipuji dan disanjung oleh seluruh dunia.
Dan kita tidak lupa dengan Undang-undang Dasar 1945 amandemen pada pasal 28C ayat 1 yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”
Sebagai putra bangsa yang memiliki semangat untuk membangun bangsa ini tentunya saya tidak tinggal diam ketika memiliki bangsa yang sangat kaya dan subur untuk mencurahkan kemampuan saya dalam bidang pertanian untuk sumbangsih meningkatkan taraf perekonomian bangsa ini dengan mengolah potensi yang ada dalam diri saya demi kepentingan bangsa.
Tidaklah salah ketika anak bangsa yang sedang merajut cita dan tekad untuk mencintai tanah air ini yang nampak kesusahan di era globalisasi dengan segala daya dan pengetahuan yang dipahaminya. Bukankah itu merupakan bentuk cinta dan menghargai terhadap para pejuang kita yang telah menjauhkan diri dari “penjajahan” yang pernah ada dan masih ada hingga sekarang.
Sungguh naifkah kita dengan apa yang kita lakukan sebagai orang yang tahu dan memiliki peluang juga kesempatan untuk melakukan yang terbaik untuk bangsa ini. Sehingga dengan budi pekertinya yang luhur tidak akan melakukan perbuatan yang akan membuat bangsa ini menangis.
Tidaklah bangsa yang besar seperti Indonesia, ketika ada yang melakukan perbuatan yang membuat bangsa ini bengga dan tetap menjadi tanah surga yang dikagumi setiap manusia. Dan siapapun yang akan ikut di dalamnya tidaklah perlu untuk mendaftarkan dirinya, namun hal itu tumbuh dari hati nuraninya yang berjiwa Indonesia.
Ditengah derasnya arus globalisasi yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bisa bersaing dengan bangsa lain tentunya tidak perlunya restriksi yang berlebihan terhadap berkembangnya ilmu pengetahuan yang menjadi modal penting perubahan bangsa ini.
Sepantasnyalah bahwa suatu kebenaran yang muncul dari sanubari yang tulus terhadap sebuah keadilan yang dicita-citakan oleh setiap insan, muncul juga dalam benak saya sebagai insan manusia yang mencoba untuk mengaplikasikan apa yang saya pahami selama ini.
Seperti yang dikatakan oleh seorang budayawan yang dikenal dengan sebutan “Si Penyair Celurit Emas” D. Zawawi Imron dalam sebuah paparanya mengatakan “Orang yang tidak punya rasa cinta tanah air akan mudah melakukan penghianatan terhadap bangsa dan negara, seperti melakukan makar, kerusuhan, penjarahan, korupsi, membuka aib bangsa dan Negara kepada bangsa lain dan perbuatan tidak terhormat lainnya”
Demikianlah saya sebagai manusia biasa yang teramat kecil bagi keberadaan ciptaan Tuhan yang lainnya, yang mencoba untuk meretas sebuah keadilan yang teramat mahal harganya.
Makna yang baik kita ambil dari sepenggal puisi karya D. Zawawi Irmron yang berbunyi “Adik-adik kecil yang manis! Jangan mandi di situ, air sungai itu bercampur limbah, nanti kalau kamu dewasa kulitmu tidak sempurna sebagai anak Indonesia. Aku tak ingin, kamu jadi orang asing di atas tanah kelahiranmu sendiri.". sebuah pemahaman yang melanda negeri ini bahwa sering kali kita menjadi tamu dinegeri sendiri, sungguh naif sebagai bangsa besar yang masih memiliki harga diri.
Teguh Adminto<>Asisten Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH UMM)

No comments: